Ciri-Ciri Ulama Ahlusunnah
Ahad, 25-Desember-2005, Penulis: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi
Siapa yang dinamakan Ulama?
Ciri-Ciri Ulama Ahlusunnah
Ahad, 25-Desember-2005, Penulis: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi
Siapa yang dinamakan Ulama?
Nawaf Zaro
Harian al-Bayan UEA (24/11/2008)
Walau ada tiga peristiwa penting terkait Palestina, yaitu peringatan perjanjian Balvour, 20 tahun pengakuan Al-Jazair terhadap Negara Palestina serta 61 tahun peringatan keputusan pembagian Palestina, namun kondisi perkembangan Al-Quds semakin kabur tertutupi sejumlah masalah lainya.
Oleh: Salim bin Shalih al-Marfadi
Sumber : http://almanhaj.or.id
Islam telah meletakkan sendi-sendi adab yang tinggi bagi seorang muslim yang berjalan diatas manhaj Sunnah, dalam pergaulannya bersama saudara-saudaranya ketika berselisih faham dengan mereka dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Cukuplah kiranya, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembawa rahmat dan petunjuk.
“Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia”. [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam 'Adabul Mufrad' dan Imam Ahmad. Lihat 'Silsilah Ash-shahihah 15']
Di antara adab-adab itu ialah :
… continue reading this entry.
Generasi yang kuat hanya akan lahir apabila kita besarkan di atas pijakan takwa dan berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida). salah satu makna qaulan sadiida adalah berkata tegas, tidak menutup-nutupi kebenaran. dengan pijakan ini maka akan lahir generasi yang kokoh imannya, lembut perangainya, toleran pada agama lain (seperti Rasululloh) bukan karena kerdilnya jiwa, ciutnya nyali, dan rusaknya iman.
… continue reading this entry.
Ibnul Qayyim Jauzy, berkata:
Siapa yang mengetahui dirinya, ia akan menyibukkan diri dengan memperbaiki dirinya daripada memperhatikan orang lain. Siapa yang mengetahui Tuhannya, ia akan menyibukkan diri dengan-Nya daripada mengikuti hawa nafsunya
Lho, jadi artikel-artikel dari almanhaj sudah dapat dikumpulkan di KSS bersama situs-situs sunnah lainnya?
Ya, alhamdulillah akhirnya kami mendapatkan suatu cara untuk membuat layanan RSS untuk situs yang kita cintai dan penuh berkah itu. Beberapa bulan yang lalu kami memang telah menghubungi pihak almanhaj.or.id dan memohon layanan RSS dari situs mereka. Karena kesibukan dan hal lain, mereka belum bisa mewujudkannya.
Lalu sambil menanti ketersediaan RSS dari almanhaj, kamipun sebenarnya sempat mencoba mengupayakan dengan cara alternatif. Sampai kami menemukan Ponyfish (yang memberikan layanan RSS untuk sebuah situs). Kami mengenal layanan mereka sudah cukup lama dan sudah sempat coba membuatkan RSS untuk almanhaj, namun ketika kami coba gabungkan sebagai kontributor di Kumpulan Situs Sunnah tidak berhasil.
Akhirnya feed yang dari ponyfish tadi kami coba ‘bakar’ dengan feedburner dan alhamdulillah bisa bekerja dengan baik di Kumpulan Situs Sunnah. Jika anda tertarik dan memerlukan RSS Feed dari almanhaj.or.id, anda dapat menggunakan alamat berikut:
RSS feed ini dapat digunakan untuk membuat widget di desktop (SpringWidget), channel untuk aggregator anda baik di web (seperti google reader, Yahoo MyWeb2, dll) maupun di desktop anda (seperti Snarfer). Jika anda ingin situs-situs sunnah (tidak hanya almanhaj), gunakan feed kami,
Sampai di sini? RSS Feed untuk almanhaj.or.id telah tersedia dan sepertinya akan berjalan dengan baik (untuk sekedar dapat dikumpulkan bersama situs sunnah yang lain), amiin. Walaupun demikian, RSS ini tidak resmi dan tidak ada paragraf pembuka (sebagaimana yang kita saksikan), sehingga alangkah baiknya jika pihak almanhaj tetap mengupayakan layanan RSS yang resmi dari mereka. Inilah harapan kami. Bagaimana pendapat anda? Masih perlukah RSS yang resmi? Atau mungkin ada usulan lain? Silahkan berkomentar.
| Rumah Iklan Promosikan produk anda di situs kami, GRATIS! |
Comment by islam download — 20 June 2007 @ 7:06 pm
Comment by admin — 20 June 2007 @ 7:30 pm
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…
untuk sementara kami memakai layanan dari http://www.grazr.com/config.html terlebih dahulu.
mudah2an segera bisa berfungsi lagi.
Comment by islam download — 21 June 2007 @ 10:00 pm
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Name (required)
Mail (will not be published) (required)
Website
<!–
XHTML: You can use these tags: <a href=”" title=”"> <abbr title=”"> <acronym title=”"> <b> <blockquote cite=”"> <cite> <code> <del datetime=”"> <em> <i> <q cite=”"> <strike> <strong>
–>
Kabari saya komentar-komentar berikutnya melalui e-mail
| Menyingkap Perbedaan Antara Dakwah Salafiyah Dan Dakwah Hizbiyah (II) Rabu, 28-Desember-2005, Penulis: Syaikh Muhammad Bin Ramzan Al-Hajiry |
|---|
|
Sementara golongan yang paling berbahaya sebagaimana kami telah terangkan adalah para pembawa dan pengikut syubhat dan para pengikut hawa nafsu sebab melalui merekalah datangnya bencana-bencana yang lain terhadap ummat, berupa kesyirikkan dan kemaksiatan-kemaksiatan. Merekalah yang menghias-hiasi bagi orang-orang jahil dari kaum muslimin akan jatuhnya mereka dalam kesyirikkan berupa do’a kepada orang-orang yang sudah mati, baik dari kalangan para nabi dan para wali. Sebagian mereka menjadikan para pelaku maksiat meninggalkan istiqomah, disebabkan karena mereka berlebihan dalam mengkafirkan para pelaku maksiat dan dalam mengingkari kemungkaran dengan (cara-pen) menghalalkan darah para pelaku maksiat tersebut. Kelompok yang lain menghiasi maksiat terhadap orang banyak dengan menamakan maksiat dengan selain namanya, seperti penamaan zina dan khina serta kotornya percampur bauran antara perempuan dengan lelaki dengan menamakannya sebagai pergaulan arwah (ruh-ruh) serta kefanaan pada zat Allah. Dan juga seperti mereka menamakan khamr sebagai minuman ruhiyah jiwa, menamakan alat-alat musik dan lagu-lagu/nyanyian yang nista sebagai seni yang tinggi dan santapan rohani. Juga menamakan nasyid-nasyid bid’ah sebagai nasyid-nasyid Islamiyah, menamakan riba dengan nama faedah dengan menganggapnya sebagai suatu keharusan dalam (kehidupan) perekonomian. Dan seperti memberi nama terhadap partai-partai/kelompok yang memecah belah ummat sebagai jama’ah-jama’ah untuk menyatukan kaum muslimin, maka bagaimana mungkin tafriq (pemecah-belahan) dapat menjadi tajmi’ (penyatuan/pengumpulan)?? Demikian pula seperti memutlakkan pemberian ba’iat terhadap waliyul ‘amr (pemerintah/penguasa) kaum muslimin dalam perkara yang ma’ruf bahwa itu adalah keta’atan terhadap para thaghut… sampai akhir dari semua kebohongan mereka yang tidak cukup tempat untuk menyebutkan semuanya. Sedangkan yang menjadi titik pusat perbedaan antara firqah-firqah (kelompok-kelompok) ini adalah perbedaan-perbedaan aqidah. Sungguh fitnah tersebut berdiri di atas fanatisme yang berlebihan, saling berbantahan, saling bermusuhan dengan segala bentuk dan macamnya, sehingga (fitnah) ini telah dapat melenyapkan (meruntuhkan) suatu Negara dan mendirikan Negara (yang lain) dan terjadilah bencana. Sementara itu sebagai bandingannya, para da’I (penyeru) kepada kebenaran, yang mereka itu adalah para salafus shalih dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka menghadapi dan melawan kebatilan tersebut. Dan perlawanan ini adalah perlawanan yang terbuka dan jelas, tidak ada yang tersembunyi padanya. Para da’i kepada kebenaran ini telah menghadapi mereka dengan Al Bayan (penjelasan) yang didukung oleh kuatnya hujjah dan dalil dari Al Kitab dan Sunnah. Mereka juga melawan dengan senjata, sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu. Mereka itulah orang-orang yang selalu mendukung kebenaran, baik dengan penjelasan Al-Qur’an dan As Sunnah ataupun dengan perlawanan menggunakan senjata. Golongan-golongan ini (masing-masing) mempunyai asal-asal dan mempunyai sejarah, yang pada kesempatan ini bukanlah tempatnya untuk menjelaskan sejarah pertumbuhan golongan-golongan dan menjelaskan asal-asalnya, melainkan hanya sekedar memberikan isyarat terhadap apa yang telah dimunculkan oleh golongan-golongan ini. Golongan-golongan tersebut dengan prinsip-prinsip aqidahnya yang merupan hal baru dalam agama,masih tegak dan eksis hingga jaman ini. Tidak ada satupun dari firqah yang pernah keluar (muncul) akan lenyap bahkan sebaliknya firqah-firqah (baru) selalu terus bermunculan. Tidak ada satupun firqah yang pernah keluar akan kembali meskipun para pendirinya sudah kembali, akan tetapi aqidah-aqidah dan jalan-jalannya yang rusak akan tinggal sebagaimana terjadi pada Al-Asya’irah dimana Abul Hasan telah kembali kepada manhaj Ahlissunnah, akan tetapi prinsip-prinsip dasar yang rusak yang dia letakkan di awal kali masih tetap tegak, dibela dan diperjuangkan secara dfanatiki secara batil oleh orang-orang yang meyakininya setelahnya. Diantara bentuk-bentuk perpecahan yang juga terjadi setelah periode shahabat adalah fanatisme-fanatisme buta terhadap madzhab-madhzab fiqih dimana perselisihan-perselisihan madzhab yang terjadi diantara pengikut-pengikut madzhab sudah mencapai suatu tingkatan dimana sebahagian mereka menganggap bahwa perempuan-perempuan dari sebahagian lainnya (pengikut madzhab yang lain-pen) adalah layaknya perempuan-perempuan ahlil kitab dalam masalah pernikahan. Maka jangan merasa terkejut jika membaca di dalam sejarah tentang apa yang telah terjadi berupa pengusiran seseorang dari masjid atau dilepaskannya ia dari posisi Imam shalat di masjid, atau diturunkannya seorang khatib dari mimbarnya atau diusirnya seseorang dari suatu kota atau suatu negeri. Salah seorang ulama India menceritakan padaku bahwa salah seorang dari mereka (dari kalangan yang sama dengan ulama ini-pen) biasa meletakkan kedua tangannya pada dadanya ketika berdiri setelah ruku’ (posisi I’tidal-pen), ketika itu ada orang lain yang memukulnya pada kedua tangannya sampai mematahkannya. Bahkan salah seorang dari mereka ketika mengucapkan “amin” di dalam masjid maka seseorang membuntutinya lalu menembaknya dengan senjata api hingga membunuhnya di masjid tersebut. Semua ini adalah disebabkan oleh perbedaan-perbedaan madzhab dan ta’ashub (fanatisme buta) yang buruk, yang hal ini telah dibantah (dikritik) oleh semua ulama ahlus sunnah pentahqiq, bahkan sesungguhnya para Imam yang empat yang diikuti dalam madzhab-madzhab, mereka sendiri memiliki pernyataan-pernyataan (komentar-komentar) yang gamblang dalam membuang sikap ikut-ikutan dan fanatisme buta yang tercela serta anjuran untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Maka telah dikenal perkataan Abu Hanifah: Dan sebagaimana perkataan Al Imam Malik: Imam Asy Syafi’I berkata: Adapun Imam Ahmad maka banyak sekali contoh yang menggambarkan ketamakkan beliau dalam mengikuti dalil (5). Tetapi meskipun semua perkataan begitu gamblang, tetap juga para pengikut madzhab-madzhab itu terjatuh di dalam ta’ashub yang sangat dibenci, yang masih ada pada Negara-negara Islam berupa ta’ashub. Seandainya mereka kembali kepada Al Kitab dan As Sunnah dan berpegang kepada dalil-dalil di dalam madzhab-madzhab, manhaj (jalan-jalan), suku-suku, letak geografis, warna-warna, serta lisan-lisan bahasa-bahasa (6), maka sungguh akan lenyaplah perselisihan ini, akan hilang percekcokan dan akan sirna permusuhan dan akan musnah celaan-celaan dan saling memaki. Jikalau mereka kembali kepada dalil-dalil yang dijadikan rujukkan oleh ahlil ilmi, maka perkataan oranglah yang harus dicari dalil-dalil pendukungnya bukannya perkataan-perkataan itu sebagai dalil. Kalau begitu, dengan kembali kepada Al Kitab dan As Sunnah dan berpegang kepada keduanya, akan hilang perselisihan-perselisihan aqidah dan madzhab. Dengan kembali kepada keduanya dalam masalah ilahiyah (ketuhanan), kenabian, hari akhir dan pokok-pokok aqidah yang lainnya serta dalam hukum-hukum. Bahwa sesungguhnya umat Islam sampai sekarang ini, sedikit demi sedikit meminum pahitnya perbedaan ini, pada masalah aqidah dan hukum-hukum. Untuk itulah adanya da’wah yang sangat serius untuk memperbaiki aqidah-aqidah dan memperbaiki hukum-hukum. Hal tersebut adalah dengan cara kembali kepada petunjuk para salafus shalih. Itulah yang diserukan oleh da’wah salafiyyah yang mana imamnya adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi yang mulia serta Rasul yang agung. ( Bersambung Ke Bagian III ) (Dikutip dari majalah An-Nashihah Volume 09 1426H 2005M) 2 I’tizalnya mu’tazilah maknanya munculnya pertama kali perbuatan I’tizal yang kemudian digunakan dalam penyebutan-nama |
Posted in Motivasi, Religi, Tazkiyatun Nufus on October 8, 2008 | No Comments »
Banyak cara yang bisa kita lakukan saat sedang mendapat ujian dan cobaan. setiap orang pastinya sudah punya caranya masing masing. sudah kita ketahui bersama jika permasalahan akan selalu datang silih berganti. dari masalah keluarga sampai masalah kerja.
selain silaturahim yang sudah saya tulis sebelumnya, ada cara lain yang paling sering saya lakukan. ketika ada masalah dengan [...]
Posted in Motivasi, Religi on October 8, 2008 | No Comments »
Tak terasa waktu begitu cepat berjalan. serasa baru kemaren datang ke Tokyo, ehhh sudah 2 tahun berlalu. kawan pun berganti selalu. ada yang lulus, ada juga yang datang. banyak sekali kenangan dan pengalaman yang bisa saya petik di sini.
bertemu banyak teman tentunya menghasilkan beraneka ragam pengalaman. dari yang biasa sampai luar biasa. ada teman yang [...]
Posted in Diari, Motivasi, Psikologi on June 12, 2008 | 2 Comments »
Saat saya masih kecil saya sering diajak ayah rekreasi ke pegunungan. kebetulan kami tinggal di daerah yang tidak begitu jauh dengan tempat wisata pegunungan. kami biasa menempuhnya dengan kendaraan umum meski sesekali naik motor. nah saat naik motorlah perjalanan terasa sangat menakjubkan.
saat motor mulai berjalan dari rumah yang kuamati hanyalah tempat yang kami tuju. pegunungan [...]
Posted in Diari, Motivasi, Religi, kisah nyata on June 5, 2008 | 2 Comments »
Kemarin malam ada sebuah kejadian yang agak spesial bagi kami. saya, istri, dan anak anak pergi berbelanja buat keperluan harian. kami pergi dengan bersepda ria sambil menikmati indahnya tokyo menjelang malam. kami kembali ke rumah sekitar pukul 8 malam.
Besok sabtu, tanggal 7 Juni 2008, istri saya mendapat order membuatkan nasi bungkus. ini adalah kali pertama [...]
Posted in Motivasi, Religi, kisah nyata on June 4, 2008 | No Comments »
sudah lebih 6 bulan saya tinggal bersama istri dan anak anak di Tokyo. banyak sekali kejadian yang kami rasa adalah sebuah mimpi. Tinggal di Tokyo dengan keluarga memerlukan dukungan finansial yang lumayan tinggi. Alhamdulillah saya mendapat beasiswa. meski dekian saya dan istri tetap berusaha hemat agar bisa menabung untuk periapan saat pulang ke Jogja.
Hampir semua [...]
Posted in Motivasi, Religi on June 3, 2008 | No Comments »
SUKSES KITA ADALAH KESUKSESAN BERSAMA
Sukses bukan hanya kesuksesan diri.
Sukses adalah kesuksesan diri yang bisa membawa kesuksesan orang lain.
—Herianto—
setiap dari kita pasti pernah mengalami kesuksesan. sukses usaha, sekolah, karir, keluarga, atau bentuk bentuk sukses lainnya. kesuksesan kita takan berarti jika sukses seorang diri di tengah tengah kegagalan atau kesedihan orang lain. bisa jadi sukses kita akan [...]
Posted in Motivasi, Religi, ScienceTech, kisah nyata on June 3, 2008 | 1 Comment »
Mendengar kata robot imajinasi kita langsung membayangkan sebuah alat yang sangat canggih yang bisa ini dan itu seperti yang sering kita lihat waktu kecil di tv. robot bisa terbang, lari, menembak layaknya manusia saja. saat ini sudah banyak perusahaan perusahaan besar yang menggunakan teknologi robot dalam mendukung usahanya. bahkan diprediksi jika suatu saat nanti akan [...]
Posted in Motivasi, Religi on May 23, 2008 | 1 Comment »
Berdagang sangat mulia dalam pandangan islam. banyak pintu rezeki lewat berdagang. ketika islam begitu memuliakan usaha khususnya berdagang pasti ada bermacam macam pelajaran dalam berdagang. lewat tulisan ini saya ingin menulis salah satunya.
berdagang ternyata membuat kita lebih dekat dengan Allah. seorang pedagang (muslim) akan selalu berdoa agar dagangannya laku semua. kadang dagangan laku semua sampai [...]
Posted in Diari, Motivasi on April 7, 2008 | No Comments »
A journey of a thousand miles begins with a single step.
—-A Chinese proverb—-
Di dunia ini kita susah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan secara instan. setiap cita cita yang sudah kita impikan harus melalui sebuah perjalanan panjang yang kadang penuh onak dan duri di sekitarnya. mungkin saja ada diantara kita yang dengan mudahnya mendapatkan apa [...]
Posted in Motivasi, Religi, ScienceTech on March 18, 2008 | 2 Comments »
Wah…ternyata dunia itu kecil/sempit. kata ini sering kita dengar saat kita bertemu dengan teman atau teman dari teman kita di suatu tempat atau kejadian yang kita tidak sangka sebelumnya.
dalam dunia networking, para ilmuwan biasa menyebutnya Small-world. salah satu applikasi small world dalam dunia nyata adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa:
“semua orang di dunia hanya [...]
Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin
Rabu, 04-Januari-2006, Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Pemikiran dan buku tokoh-tokoh mereka, semacam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, Said Hawwa, Fathi Yakan, Yusuf Al-Qardhawi, At-Turabi tersebar luas dengan berbagai bahasa, sehingga sempat mewar-nai gerakan-gerakan dakwah di berbagai negara.
Ikhwanul Muslimin, gerakan ini tidak bisa lepas dari sosok pendirinya, Hasan Al-Banna. Dialah gerakan Ikhwanul Muslimin dan Ikhwanul Muslimin adalah dia. Karismanya benar-benar tertanam di hati pengikut dan simpatisannya, yang kemudian senantiasa mengabadikan gagasan dan pemikiran Al-Banna di medan dakwah sepeninggalnya.
Untuk mengetahui lebih dekat hakikat gerakan ini, mari kita simak sejarah singkat Hasan Al-Banna dan berdirinya gerakan Ikhwanul Muslimin.
Al Wala` Wal Bara` Ala Ikhwanul Muslimin
Kamis, 05-Januari-2006, Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Ikhwanul Muslimin (untuk selanjutnya disingkat IM) bisa diibaratkan seperti lokomotif bagi gerbong-gerbong kelompok harakah (pergerakan) Islam dewasa ini1. Pasalnya, IM tergolong kelompok paling tua dalam dunia harakah, bahkan telah banyak melahirkan kelompok-kelompok pergerakan yang muncul setelahnya.
Demikian pula para tokohnya. Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hasan Al-Hudhaibi, Abdul Qadir Audah, Muhammad Ash-Shawwaf, Musthafa As-Siba’i, Umar At-Tilmasani, Muhammad Hamid Abu Nashr, Yusuf Qardhawi, Muhammad Al-Ghazali, Fathi Yakan, Hasan At-Turabi, Abul A’la Al-Maududi, Al-Ghanusyi, Sa’id Hawa dan yang lainnya adalah “orang-orang lama” yang dijadikan narasumber dan “tempat kembali” bagi para aktivis pergerakan. Sontak, kondisi semacam ini cukup mengkhawatirkan… Terkhusus ketika fakta membuktikan bahwa penyimpangan telah terjadi dari dalam IM. Sebagaimana pernyataan Ali Asymawi (mantan tokoh IM yang pernah mendekam di balik terali besi selama 23 tahun dalam perjalanannya bersama mereka), “Menurutku IM (ketika itu) merupakan induk seluruh kelompok (tanzhim) Islam di dunia Arab, karena IM-lah yang paling tua dan yang melahirkan berbagai kelompok setelahnya. Segala bentuk penyimpangannya pun bersumber dari dalam IM sendiri.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-’Adnani, hal. 76)
Para pembaca, bahasan kali ini tidak-lah menyingkap seluruh penyimpangan IM. Akan tetapi khusus penyimpangan mereka dalam hal Al-Wala` dan al-Bara` yang merupakan tali keimanan yang paling kokoh. Rasulullah n bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Tali keimanan yang terkokoh adalah berloyal karena Allah dan memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 11.537 dari shahabat Abdullah bin ‘Abbas c. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1.728)
Apa itu Al-Wala` dan Al-Bara`?
Al-Wala` adalah loyalitas dan kecin-taan kepada Allah k dan Rasul-Nya serta kaum mukminin. Sedangkan al-Bara` adalah benci dan berlepas diri dari musuh-musuh Allah k dan Rasul-Nya serta musuh-musuh kaum mukminin.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Sesungguhnya, setelah mencintai Allah k dan Rasul-Nya, maka wajib mencintai wali-wali Allah k dan memusuhi musuh-musuh-Nya. Dan di antara prinsip (aqidah) Islam yang terpenting adalah bahwa setiap muslim yang beraqidah Islam wajib loyal dan mencintai orang-orang yang berpegang teguh dengannya (aqidah Islam) dan memusuhi para penentangnya. Sehingga diapun loyal dan mencintai orang-orang yang bertauhid lagi mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah k semata, dan membenci/ memusuhi orang-orang yang menyekutukan Allah k. Prinsip ini telah ada dalam ajaran Nabi Ibrahim p dan orang-orang yang bersama beliau yang kita diperintah untuk meneladani mereka. Allah k berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kamu selama-lamanya, sampai kamu mau beriman kepada Allah semata’.” (Al-Mumtahanah: 4) [Al-Wala` wal-Bara` Fil Islam, hal. 3]
Prinsip inipun terus berkesinam-bungan hingga masa Nabi Muhammad n. Allah k berfirman tentang prinsip Al-Wala`:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُوْنَ. وَمَنْ يَتَوَلَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَالَّذِيْنَ آمَنوُا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُوْنَ
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Ma`idah: 55-56)
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangatlah keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang terhadap sesama mereka.” (Al-Fath: 29)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10)
Adapun firman Allah k tentang prinsip al-Bara`:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الَّظالِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai pemimpin-pemimpin (mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Al-Ma`idah: 51)
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia.” (Al-Mumtahanah: 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا اْلكُفْرَ عَلَى اْلإِيْمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran di atas keimanan. Dan barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (At-Taubah: 23)
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)
Slogan Peruntuh Al-Wala` Wal-Bara`
Mungkin anda sering mendengar slogan persatuan yang diproklamirkan Hasan Al-Banna, sang pendiri IM. Slogan yang berbunyi, “(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan.”
Misi apakah yang terselubung di balik slogan tersebut?
Ali Asymawi berkata: “IM getol sekali mendengungkan slogan mereka yang amat terkenal di kalangan kelompok-kelompok dan ormas-ormas Islam ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan’. Sebuah slogan yang diluncurkan dalam upaya memegang tali kendali (umat) dan menggiring segala laju permasalahan untuk kepentingan mereka.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 76)
Bagaimanakah aplikasi dari slogan tersebut di kalangan IM?
Ali Asymawi berkata: “(Dalam mengaplikasikannya, –pen.) tidak ada upaya pembenahan atau pembersihan hal-hal negatif ataupun meluruskan penyimpangan yang telah menggurita di tengah-tengah kelompok pergerakan Islam. Hingga akhirnya (penyimpangan itu pun, -pen.) bercokol dengan kokohnya di seluruh penjuru dunia. Faktor penyebabnya adalah terjatuhnya mayoritas mereka ke dalam sikap ekstrim (berlebihan) –ketika menerapkan slogan tersebut–.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 76)
Fakta dan data di lapangan menun-jukkan benarnya keterangan Ali Asymawi (akan dijelaskan secara rinci nantinya). Terlebih hari-hari ini, ketika slogan itu lebih dikongkritkan dalam bahasa-bahasa yang keren, lugas dan terkesan adem: “Islam Warna-warni”, “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, dll, yang digandrungi oleh banyak kelompok, ormas, dan parpol. Selidik punya selidik, ternyata dalam realisasinya meruntuhkan prinsip al-wala` wal-bara`. Apa misi di balik itu?
Jawabnya adalah idem, seperti keterangan Ali Asymawi tentang IM. Atau, mungkin ada jawaban lain…? Wallahul Musta’an.
Akibatnya, semakin bercokollah penyimpangan/ kebatilan pada individu ataupun kelompok, karena tidak ada upaya pembenahan, pembersihan hal-hal negatif ataupun meluruskan penyimpangan yang telah menggurita (sebagaimana pernyataan Ali Asymawi). Bahkan ketika ada yang berupaya meluruskan penyimpangan tersebut, justru malah mendapatkan serbuan komentar: “Kayak yang bener sendiri”, “Ndak usah ngurusi orang lain”, “Masing-masing kan punya dasar”, “Ribut terus, orang kafir sudah sampai ke bulan kita masih ngurusi khilafiyyah”, dan lain sebagainya. Padahal seringkali upaya pembenahan dan pelurusan itu berkaitan dengan masalah aqidah.
Saudara, contoh di atas erat kaitannya dengan internal kita kaum muslimin. Dan lebih mengherankan, ketika kaitannya dengan orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang kafir lainnya yang Allah k wajibkan kita untuk bara` (berlepas diri/membenci) mereka sebagaimana dalam ayat-ayat yang disebutkan di awal bahasan. Berondongan komentar pun acap kali didengar, “Mereka itu saudara kita”, “Semua agama sama”, dan lain sebagainya.
Mungkin anda merasa janggal, khususnya kaitannya dengan IM. Bukankah pada tahun 1948, IM terlibat kontak senjata melawan orang-orang Yahudi Israel di Palestina?!
Jawabnya adalah: Benar. Namun apa motivasinya?
Hasan Al-Banna berkata (tentang kasus Palestina): “Untuk itu kami tetapkan bahwa permusuhan kami dengan Yahu-di bukanlah permusuhan agama. Karena Al-Qur`an telah menganjurkan untuk berga-bung dan berkawan dekat dengan mereka. Dan Islam merupakan syariat kemanusiaan sebelum menjadi syariat kaum tertentu. Islam pun telah memuji mereka dan men-jadikan antara kita dengan mereka keter-kaitan yang kuat.” (Al-Ikhwanul Mus-limun Ahdatsun Shana’at Tarikh, I/409-410. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 59)
Kalau bukan karena agama, lalu apa?
Yusuf Qardhawi berkata: “Kami memerangi orang-orang Yahudi bukan karena urusan aqidah, akan tetapi karena urusan tanah. Kami memerangi mereka bukan karena statusnya sebagai orang-orang kafir, akan tetapi karena mereka merampas (tanah Palestina).” (Surat Kabar Ar-Rayah, Qatar edisi 4696, 25 Januari 1995. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha (lampiran) hal. 207)
Fatwa Ulama tentang Slogan IM Itu
Manakala para tokoh IM telah berlebihan dalam merealisasikan slogan mereka itu, maka jerit peringatan dari dalam tubuh IM pun terdengar, sebelum adanya fatwa para ulama. Lagi-lagi Ali Asymawi mengatakan: “Untuk itu, aku melihat bahwa sekaranglah saatnya memberi peringatan dan membuka jendela-jendela, agar sinar mentari dan udara segar bisa masuk ke lorong-lorong jamaah (IM) yang telah pengap dan membusuk aromanya. Dan juga, agar pengalaman hidupku bersama mereka dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pemuda untuk tidak gegabah dalam mencari jalan hidupnya, mempertim-bangkan secara matang ke mana kakinya hendak dilangkahkan, dan tidak mudah hanyut dalam memberikan loyalitas dan ketaatannya pada siapapun… Karena Allah k telah mengaruniakan kita akal fikiran sebagai kehormatan bagi anak manusia. Tidaklah sepantasnya kita menyia-nyiakannya, agar tidak mudah dijadikan bulan-bulanan oleh siapapun dan bergerak di bawah slogan apapun.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 76)
Adapun fatwa para ulama, antara lain:
1. Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t.
Beliau berkata: “Ya, wajib untuk saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati berupa kebenaran, dakwah kepada kebenaran tersebut dan memper-ingatkan (umat manusia) dari apa yang dilarang Allah k dan Rasul-Nya. Adapun saling toleran dalam perkara yang diperselisihkan, maka tidak bisa dibenarkan secara mutlak, bahkan harus dirinci. (Yaitu) di saat perkara tersebut termasuk masalah ijtihad yang tidak ada dalilnya secara jelas, maka tidak boleh di antara kita saling mengingkari. Sedangkan bila perkara tersebut jelas-jelas menyelisihi nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka wajib diingkari dengan hikmah, nasehat dan diskusi dengan cara terbaik.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 3/58-59. Lihat Zajrul Mutahawin Bidharari Qa’idah Al-Ma’dzirah wat Ta’awun, karya Hamd bin Ibrahim Al-Utsman, hal. 128)
2. Fatwa Asy-Syaikh Al-Albani t.
Beliau berkata ketika mengkritik para pengusung slogan di atas: “Merekalah orang yang pertama kali menyelisihinya. Kami yakin bahwa penggalan (pertama, -pen.) dari slogan tersebut benar, yaitu ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati’. Ini tentunya dipetik dari firman Allah k:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِّرِ وَالتَّقْوَى
“Saling tolong-menolonglah dalam perkara kebaikan dan ketaqwaan.” (Al-Ma`idah: 2)
Adapun penggalan kedua ‘Dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan’, maka harus dipertegas… Kapan? (Yaitu) ketika kita saling menasehati. Dan kita katakan kepada yang berbuat kesalahan: ‘Engkau salah, dalilnya adalah demikian dan demikian.’ Bila dia belum puas dan kita lihat dia seorang yang ikhlas (pencari kebenaran, -pen.) maka kita tolerir dia, dan saling tolong-menolong dengannya dalam perkara-perkara yang disepakati. Adapun bila dia seorang penentang kebenaran lagi sombong dan berpaling darinya, maka saat itulah tidak berlaku penggalan kedua dari slogan tersebut dan tidak ada toleransi di antara kita dalam perkara yang diper-selisihkan itu.” (Majalah Al-Furqan, Kuwait, edisi 77, hal. 22. Lihat Zajrul Mutahawin, hal. 130)
3. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin t.
Beliau berkata: “Slogan mereka ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati’, ini benar. Adapun ‘Dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan’, maka ini harus dirinci:
q Bila termasuk perkara ijtihad yang memang dibolehkan berbeda, maka hendaknya kita saling toleran, dan tidak boleh ada sesuatu di hati karena perbedaan tersebut.
Adapun bila termasuk perkara yangq tertutup pintu ijtihad, maka kita tidak boleh toleran kepada orang yang menyelisihinya. Dan diapun harus tunduk kepada kebenaran. Jadi bagian pertama benar, sedangkan bagian akhir harus dirinci.” (Ash-Shahwah Al-Islamiyyah, Dhawabith Wa Taujihat, I/218-219. Lihat Zajrul Mutahawin, hal. 129)
Fenomena Al-Wala` Wal Bara` Ala IM
Demikianlah koreksi para ulama atas slogan IM di atas. Lalu bagaimanakah fenomena IM di dalam merealisasikannya? Simaklah keterangan berikut ini!
1. Garis besar Al-Wala` wal-Bara` ala IM.
q Hasan Al-Banna dalam momentum peringatan HUT IM yang ke-20 (5-9-1948) berkata: “Gerakan IM tidaklah memusuhi aqidah, agama, atau kelompok apapun.” (Qafilah Al-Ikhwan, karya As-Sisi, I/211. Lihat Ath-Thariq Ilal Jama’atil Um, hal. 132)
Muhammad Al-Ghazali berkata: “Selarasq dengan sejarah lama, maka kamipun berkeinginan untuk membentangkan tangan-tangan kami dan membuka telinga dan hati kami untuk setiap seruan yang mempersatukan agama-agama, dan mendekatkan antar pemeluknya serta menghilangkan sebab-sebab perpecahan dari hati-hati mereka.” (Wamin Huna Na’lam, hal. 150. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 60)
2. Sikap IM terhadap Yahudi dan Nasrani
q Hasan Al-Banna berkata (tentang kasus Palestina): “Untuk itu kami menetapkan bahwa permusuhan kami dengan Yahudi bukanlah permusuhan agama. Karena Al-Qur`an telah menganjurkan untuk bergabung dan berkawan dekat dengan mereka. Dan Islam merupakan syariat kemanusiaan sebelum menjadi syariat kaum tertentu. Islam pun telah memuji mereka dan men-jadikan antara kita dengan me-reka keterkaitan yang kuat.” (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdatsun Shana’at Tarikh, I/409-410. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 59)
Yusuf Qardhawiq berkata: “Kami memerangi orang-orang Yahudi bukan karena urusan aqidah, akan tetapi karena urusan tanah. Kami memerangi mereka bukan karena statusnya sebagai orang-orang kafir, akan tetapi karena mereka merampas (tanah Palestina).” (Surat Kabar Ar-Rayah, Qatar edisi 4696, 25 Januari 1995. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha (lampiran) hal. 207)
q Musthafa As-Siba’i berkata: “Islam bukanlah agama yang memerangi agama Nashrani, bahkan mengakui dan memuliakan agama Nashrani… Islam tidak membedakan antara muslim dan Nashrani. Islam tidak memberikan hak lebih terhadap muslim atas hak Nashrani dalam kedudukan di pemerintahan…” (Ath-Thariq Ilal Jama’atil Um, hal. 134)
Hasan At-Turabi dalamq ceramahnya yang berjudul Ta’dilul Qawanin, berkata: “Boleh bagi seorang muslim untuk menjadi Yahudi atau Nashrani, seperti halnya mereka (Yahudi dan Nashrani) dibolehkan untuk menjadi muslim.”
Di kesempatan ceramahnya yang lain dengan tema Ad-Daulah Baina Nazhariyyah Wa Tathbiq, berkata: “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengkafirkan Yahudi dan Nashrani.” (Isyruna Ma’kha-dzan ‘Ala As-Sururiyyah, hal. 2. Lihat Majalah Asy Syari’ah edisi Fenomena Sinkretisme Agama, hal. 21)
3. Sikap IM terhadap Syi’ah Rafidhah.
Syi’ah Rafidhah adalah rintisan Abdullah bin Saba‘ seorang Yahudi dari Yaman. Di antara keya-kinan kelompok ini adalah: Al-Qur`an (kaum muslimin) yang ada telah mengalami perubahan dan pengurangan sehingga tak tersisa lagi kecuali hanya 1/3 dari aslinya; para shahabat telah murtad (sepeninggal Nabi n) kecuali beberapa orang saja; para istri Nabi n adalah pelacur; imam-imam mereka ma’shum dan kedudukannya di atas malaikat dan nabi; dan lain sebagainya (untuk lebih rincinya, lihat Rubrik Manhaji Majalah Asy Syari’ah edisi Menyikapi Kejahatan Penguasa dan Syi’ah Menikam Keluarga Nabi)
Bagaimanakah sikap IM terhadap mereka? Simaklah keterangan tokoh-tokoh mereka:
q Umar At-Tilmasani berkata: “Pada th 1940-an –sesuai apa yang kuingat– Sayyid Al-Qummi (tokoh Syi’ah) mengunjungi IM di markas besarnya, saat-saat Al-Imam Asy-Syahid (Hasan Al-Banna, -pen.) berjuang keras untuk mempersatukan seluruh madzhab… Kami pun bertanya kepadanya (Hasan Al-Banna, -pen.) tentang perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Maka dia melarang kami untuk masuk ke dalam masalah-masalah riskan semacam ini.” (Mauqif Ulama’ Al-Muslimin, karya Dr. Izzuddin Ibrahim hal. 5-21. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 56)
Salimq Bahnasawi berkata: “Sejak terbentuknya lembaga pendekatan antara madzhab-madzhab Islam yang diprakarsai Al-Imam Al-Banna dan Al-Imam Al-Qummi, kerjasama antara IM dengan Syi’ah pun terus berlangsung, yang akhirnya membuahkan kunjungan Al-Imam Nuwab Shafawi (tokoh Syi’ah) ke Kairo pada tahun 1954 M.”
Dia juga berkata: “Dan itu bukan hal aneh, karena manhaj (prinsip) kedua kelompok sama-sama mendukung kerja sama tersebut.” (Mauqif Ulama’ Al-Muslimin, hal. 13. Lihat Tahafutusy Syi’arat Wa Suquthul Aqni’ah, karya Abdul ‘Aziz bin Syabib Ash-Shaqr, hal. 32)
Abdul Aziz bin Syabib Ash-Shaqr berkata: “Ketika Hasan Al-Banna wafat, warisan (pemikiran) yang busuk ini diambil oleh seluruh petinggi IM dan diterapkan di negerinya masing-masing. Sebagaimana yang dilakukan Umar At-Tilmisani –Mursyid Aam (pimpinan umum IM)– di Mesir, Musthafa As-Siba’i di Syria, Hasan At-Turabi di Sudan, Al-Ghanusyi di Tunis, Fathi Yakan di Lebanon dan Al-Maududi di Pakistan.” (Tahafutusy Syi’arat, hal. 33)
Bagaimanakah sikap IM terhadap kelompok-kelompok Islam sempalan lainnya?
Pembaca, jika sikap mereka ter-hadap Syi’ah demikian mesranya, bahkan juga sikap mereka terhadap Yahudi dan Nashrani yang jelas-jelas musuh Allah k dan Rasul-Nya, maka bisa dipastikan jawabnya adalah: idem. Artinya, toleransi tinggi akan dipersembahkan IM untuk mereka. Demikianlah “GBHN” al-wala` wal-bara` ala mereka. Masih ingatkah perkataan Hasan Al-Banna dan Muhammad Al-Ghazali yang telah lalu?!
Penutup
Setelah menelusuri sebagian kecil (saja) perkataan tokoh-tokoh IM seputar sikap terhadap agama-agama kafir dan para pemeluknya (Yahudi, Nashrani dan yang lainnya), atau pun sikap terhadap kelompok-kelompok bid’ah dan sesat, maka sungguh mencolok sekali rapuhnya Al-Wala` wal-Bara` ala mereka. Padahal Al-Wala` wal-Bara` merupakan tali keimanan terkokoh. Tidak-kah ini cukup sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal?!
Sebagai penutup simaklah nasehat Syaikh kami Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad –hafizhahullah– di bawah ini:
“Sudah sepatutnya –bahkan seharusnya– bagi pengikut da’i tersebut (Hasan Al-Banna, -pen.) untuk tidak merealisasikan perkataannya (slogan di atas, –pen.) yang berujung pada toleransi terhadap kelompok-kelompok sesat, bahkan yang paling sesatnya semacam Syi’ah Rafidhah. (Dan) hendaknya memperhatikan penerapan kaidah ‘Cinta karena Allah k dan benci karena Allah k, berloyal karena Allah k dan memusuhi karena Allah k’ yang tidak ada ruang toleransi bagi orang-orang yang menyimpang lagi sesat dalam perkara-perkara yang menyelisihi Ahlus Sunnah Wal Jamaah.” (Zajrul Mutahawin, hal. 8)
Pembaca, demikianlah sajian kami sebagai bentuk tanggung jawab dan nasehat untuk kaum muslimin. Semoga hidayah Allah k selalu mengiringi kita semua.
Amin.
1 IM didirikan oleh Hasan Al-Banna di kota Ismailiyyah Mesir, pada bulan Maret/April 1928 (Dzulqa’dah 1327 H). (Lihat Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 23)